“Kalo Sara Adalah Cara Mencairkan Kebuntuan Komunikasi dan Cara Cerdas Berkomunikasi Para Leluhur”

734
0
BERBAGI
Gusli Topan Sabara

Kalo Sara dalam maknanya adalah tidak adanya sekat antara yang kaya dan yang miskin, penguasa dan masyarakat dan pemimpin dan yang dipimpin dan cara para leluhur menyelesaikan kebuntuan komunikasi serta cara cerdas dalam berkomunikasi.

Pemerhati budaya Tolaki Gusli Topan Sabara, misalkan jika dalam penyelesaian masalah sudah mengalami jalan buntuh, orang ketiga juga datang atau hadir untuk menyelesaikan maupun memediasi penyelesaian suatu kebuntuan komunikasi, namun tidak bisa mencaikan komunikasi, maka kehadiran Kalosara itu adalah untuk mencaikan kebuntuan kemunikasi dan inilah cara cerdas para leluhur dalam komunikasi.

“Kalosara adalah cara mencaikan kebuntuan komunikasi dan cara cerdas berkomunikasi para leluhur kita” Kata Gusli

Dia menjelaskan, Sekitar tahun 1500-an yang lalu Kalosara itu hadir di Konawe sebelum Raja Wekoila. Dan inilah cara yang dipakai oleh para leluhur dalam menyelesaiakan kebuntuan komunikasi maupun dalam menyelesaikan permasalahan lainnya. Dalam filosofi Kalosara dan juga filosofi kehidupan masyarakat tolaki ada yang dikenal bahasa lokal “Inae Konasara Iyei Pinesara Mano Inae Liasara Iyei Pinekasara” artinya “Siapa yang menjunjung adat istiadat akan dihargai dan dihormati tapi siapa yang melanggar adat maka mendapatkan sanksi dan sesuatu yang tidak baik”

“jadi Kalosara itu ada sebelum masuknya Wekoila, adakah ditempat lain, coba cari referensi, kalau sudah buntu komunikasi mereka pakai cara apa.?, deadlock, ujungnya adalah siri, kita liat siapa yang kuat dan siapa yang lemah, tapi dalam sistem kalosara adalah jalan tengah dalam menyelesaikan kebuntuan komunikasi, dengan Kalosara tidak akan ada kebuntuan, pada saat kita buntu datang dibawakan Kalosara sebagai jalan tengah kita terima dan yang lain juga akan terima dan saat itu juga akan cair komunikasi” jelas Gusli.

Menurutnya, roh sistem demokrasi Kalosara di Konawe khususnya dan masyarakat suku tolaki pada umumnya belum kembali. Yang ada saat ini hanya sebatas pada penyelesaian adat, meski ada beberapa hal dalam menyelesaikan masalah sudah menggunakan sistem kalosara. Misalkan dalam menyelesaikan komplik antara keluarga, masyarakat maupun pemimpin maupun masalah sosil lainnya.

Namun lanjut Gusli, roh dan marwah sisitem Kalosara itu sendiri sepenuhnya belum kembali. Kalau sistem demokrasi ini sudah kembali maka masyarakat akan berkarakter. Masyarakat yang punya karakter maka dia akan berkomitmen, kalau sudah berkomitmen maka akan berkomitmen kuat terhadap kebudayaannya, seperti siklus dari awal akan kembali ke awal.

“Makanya saya bilang awal kehancuran sistem demokrasi Kalosara itu tahun 1905, saat ditandatanganinya Korte van Clearing I dan runtuhnya sistem demokrasi Kalosara pada tahun 1917 saat ditandatanganinya Korte van Clearing II” Tutup Gusli.

Penulis : Armin

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY